KONGKOW

Kamis, 09/08/2012, 21:10
Fauzi Bowo dan Jokowi, Antara Citra Lebay dan Karakter Pribadi

KONGKOW pilkada dki
 

fauzi-bowo-dan-jokowi-antara-citra-lebay-dan-karakter-pribadi Foto ISTIMEWA
 
Politik tak ubahnya seperti sebuah produk dalam suatu industri. Dengan demikian pencitraan menjadi kata kunci dari semua cara meraih kekuasaan. Komunikasi politik adalah hal penting, komunikasi massa merupakan urat nadi dari politik kekinian, semua itu merupakan produk yang bisa dibuat dan dibentuk sesuai dengan kepentingan kekuasaan.

Dalam konteks pemilukada DKI Jakarta, seperti itulah yang terjadi, masyarakat tentu sangat mengenal karakter Fauzi Bowo yang selama ini memang dikenal tanpa "make up".  Gaya bicara ceplas-ceplos terkesan spontan dan blak-blakan, bahkan sering mengundang kontroversi. Tampaknya Fauzi Bowo lebih nyaman dengan menonjolkan karakter pribadi yang sudah menjadi sifatnya.

Dalam setiap pertemuan dengan warganya, Fauzi Bowo bahkan sering melontarkan kata-kata membuat tertawa terbahak-bahak, kerapkali membuat sindiran-sindiran yang sebenarnya bernada humoris tapi kadang tidak terkontrol. Apa yang diucapkan Fauzi Bowo ketika menemui warga di daerah Karet Tengsin, Jakarta Pusat sekarang menjadi pemberitaan media karena dianggap bernada kampanye dan melecehkan lawan politiknya.

Bila dianalisa dari sisi horoskop dan shio, Fauzi Bowo yang lahir 10 April 1948 berada dinaungan bintang Aries dan bershio Tikus Api, karakternya adalah: Cerdas, kratif, perfeksionis, romantis, berjiwa bisnis. Gaya bicaranya spontan dan tidak suka bertele-tele. Memiliki gairah yang besar terhadap sesuatu yang baru. Tidak suka diatur, berkemauan keras, percaya diri.

Tampaknya karakter seperti diatas memang pas untuk menggambarkan sosok Fauzi Bowo. Banyak orang yang menasihati Fauzi Bowo untuk mengubah performanya agar terkesan lebih bersahaja, lebih merakyat. Tapi memang sudah menjadi sifat bawaan, Fauzi Bowo lagi-lagi terjebak dengan style bicaranya yang blak-blakan, sebagian orang memberi pemakluman bahwa personifikasi Fauzi Bowo itu khas orang Betawi, yakni tidak suka menutup-nutupi sesuatu yang dirasakan, bicara ekspresif dan spontan.

Bahkan sebagian besar warga yang hadir di acara temu warga Karet Tengsin dengan Fauzi Bowo, sangat mahfum dengan celetukan humor yang terlontar saat itu.

Menurut salah satu warga yang dilokasi tersebut mengakui peryataan Fauzi Bowo hanya bersifat canda tawa saja setelah menayakan hal-hal penting terkait bantuan untuk perlengkapan para pengungsi,"Itu bersifat bercanda pak Fauzi, kan sebelumnya berjanji akan memberikan bantuan secepat mungkin terkait bantuan untuk para korban," kata Nurlaila yang berada di lokasi ketika Fauzi Bowo datang diacara itu, ketika ditanya oleh salah satu media online.

Menurut Nurlaila, Fauzi Bowo memang suka bercanda, "Buktinya warga biasa saja disitu malah disambut tertawa. Jangan dipolitisir lah, ini pak Fauzi juga sudah berkomitmen akan secepat mungkin membantu para korban, bagi kami adalah bukan pernyataan itu tapi bantuan," celetuk Ibu tiga orang anak ini. Dari catatan diwilayah tersebut memang pada pemilu lalu. Fauzi Bowo kalah dengan Jokowi.

Lalu mengapa ucapan Fauzi Bowo di Karet Tengsin ini kemudian menghebohkan? Disinilah peran media massa mengambil angel berita, kemudian dikonfrontir dengan pernyataan-pernyataan pihak yang berseberangan dengan Fauzi Bowo. 

Dalam politik hal tersebut sangat lumrah, bahkan hal-hal kontroversial memang sengaja diciptakan untuk mendown-grading citra seseorang. Dan memang Fauzi Bowo adalah orang yang sering kali mengundang kontroversi tersebut. Lebih Baik Jujur Ketimbang Lebay.

Lalu bagaimana dengan Jokowi?

Menjual Jokowi tentu lebih mudah, disatu sisi masyarakat Jakarta hanya mengenal Jokowi dari media. Artinya apa yang ditampilkan Jokowi melalui media itulah yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat Jakarta.

Jokowi memiliki kelebihan dalam membangun citranya, dia selalu menampilkan antitesis dari Fauzi Bowo. Orang kini mengenal Jokowi sebagai pribadinya yang rendah hati, berwajah kerakyatan, ngomongnya gagap, lucu dan cekatan memutar balik fakta mengenai Jakarta.

Memang patut diakui bahwa Jokowi beserta tim suksesnya mampu memanfaatkan psikologis konsumen politik Indonesia yang ajeg, "orang Indonesia terkenal dengan rasa nyaman-nya, meskipun track record kepemimpinan tidak bagus, kalau sudah merasa nyaman, maka dia akan dipilih."

Jokowi secara tepat membuat personifikasi, mendatangi pasar-pasar tradisional, menyapa para warga, meskipun dia tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi publik. Tapi masyarakat merasa citra dan sentuhan Jokowi itu cukup mengobati rindu akan gaya kepemimpinan merakyat.

Pertanyaannya, apakah yang citra Jokowi tersebut sesuatu yang spontanitas? Sama sekali tidak, semua merupakan desain politik pencitraan yang sengaja dibangun untuk mencapai kepentingan kekuasaan. Lihat saja bagaimana beberapa pernyataan Jokowi yang ternyata bertolak belakang dengan realitas di lapangan. Apa yang dijanjikan Jokowi untuk Jakarta ternyata malah tidak terjadi di Solo.

Misalnya masalah macet, banjir dan kesejahteraan rakyat. Hingga saat ini kota Solo masih mengalami masalah banjir, bahkan kota kecil tersebut kini tak terhindar dari kemacetan. Tentang kesejahteraan, angka kemiskinan di Solo justru meningkat dari tahun ke tahun.

Sekali lagi, citra Jokowi adalah produk, dia sangat fleksibel dan lentur bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ingin disasarnya.

Pria yang lahir di Surakarta, 21 Juni 1961 dalam ilmu astronomi Jawa bahwa sangat piawai karena sosok yang bisa dikatakan cerdas. Tetapi dalam hal pekerjaan yang dilakukannya, terkesan hanya coba-coba tapi hati-hati. Akibatnya dia tidak akan mendapatkan suatu keuntungan apapun dari jerih payahnya itu. Karena sebelum pekerjaan itu tuntas sudah ditinggalkannya.

Keputusan-keputusannya sering mendua, dalam keragu-raguan. Dalam waktu yang relatif singkat keputusannya dapat berubah lagi. Oleh karenanya sering membuat orang kebingungan atas keputusannya. Karenanya orang Saddha dapat tergolong sering ingkar janji.



Ditulis oleh Ferri Irawan
Disadur dari berbagai sumber
Mahasiswa Jakarta Pusat

HAYA   2012-08-09 21:49:14
WAKWAKWAK COCOKNYA JOKOWI TUKANG LANGGAR JANJI. NYEBUR SUMMUR
unah   2012-08-10 01:41:27
Saya orang Banten...Foke atau Jokowi gak ada pengaruh buat saya. Tapi ditulisan ini membuat saya sadar bahwa Jakarta memang harus dipimpin oleh Jokowi.
Tulisan ini adalah bagian dari usaha menghalalkan berbagai cara dari simpatisan Foke-Nara.
Kalo Jakarta ingin bersih dan dipenuhi kejujuran, maka harus dimulai dari sekarang.
Saran buat Ferri Irawan...ada baiknya anda lebih melembutkan hati, hilangkan fanatisme. Fanatisme membuat manusia terkurung dalam keterbelakangan.
Bukankah ironis jika ada manusia yang hidup di ibukota tapi berpikiran terbelakang dan fanatik buta?
dasar berita8 media bayaran foke   2012-08-10 01:43:14
Berita8 itu abal-abal, copas sana

copas sini. Sudah bukan rahasia umum, berita8 jadi media bayarannya foke. Baguslah...
husni   2012-08-10 02:31:34
saya bukan orang jakarta,maupun solo..tapi saya selalu memperhatikan pilkada dki...menurut saya si feri =antek foke...dibayar nasi bungkus..tulisannya berat sebelah,gak relevan dgn kenyataan...orangpun akan tahu siapa fokesiapa jokowi...anda perlu banyak belajar menilai seseorang,
Nasi Kubuli   2012-08-10 02:39:50
Tim nasi kibuli selalu tidak kuat nafsu jika jokowi di kritik sesuai fakta. Dasar tukang kibulin orang banyak wkwkwkw
ahmad   2012-08-10 10:08:20
Lu mao org banten kek, org solo kek, org Betawi kek,, silahkan,, tapi klo lu org Islam lu mesti mikir pilih gubernur yang doyan Ruwatan, lu mesti mikir milih Cawagub yg Islamophobia,,, sadar lu pada
Rayhan   2012-08-10 11:08:59
Ga usah basa-basi ngebahas shio, tulisan ini jelas2 timpang!
anggilda   2012-08-10 15:08:32
wah.. apa2 an ini, mahasiswa jakarta pusat juga d bayar nasi kucing.. untuk membuat opini yang mengalahkan fakta.
astika   2012-08-10 20:06:57
bedanya Foke sm Jokowi, Foke emg ga bs bikin pencitraan yg ga sesuai sm karakternya. tp stdknya rakyat butuh yg tdk berpura2 kan?
putri   2012-08-10 21:27:08
saya bukan orang jakarta atau solo. saya hanya ingin tahu, selama kepemimpinan Foke apakah masalah macet, banjir dan
kesejahteraan rakyat sudah ditangani dengan baik??

Kirim Komentar Anda


Komentar

Berita Terbaru

AC Milan Vs Juventus, Ujian Bagi Filippo Inzaghi
"Ini memang laga berat, tapi kami akan sangat menikmatinya,"

Udar Pristono Bakal Dijerat Pasal Pencucian Uang
"Ya ditelusuri follow the money yang bersangkutan,"

Tiga Hakim PN Jakbar Dilaporkan ke KY
"Hakim jujur dan baik adalah wakil Tuhan di dunia, tapi kalau hakim curang dan nakal adalah wakil setan di dunia,"

PDIP Gelar Rakernas di Semarang
Agendanya antara lain, mengukuhkan perubahan sikap politik partainya yang mendukung pemerintahan mendatang.

29 Anggota DPRD DKI Gadaikan SK
Sebanyak 29 orang dari 106 anggota DPRD DKI Jakarta diketahui telah menggadaikan SK pengangkatannya ke Bank DKI.