|
|
Korban Tsunami Dambakan Rumah Setelah Lima Tahun Sabtu, 26 Desember 2009, 13:57 WIB
Peristiwa pilu kehilangan orang-orang yang dicintai tampaknya belum bisa dilupakan para keluarga korban bencana dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004.
Rumah dan harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun, dalam hitungan detik lenyap dari pandangan mata terhempas dahsyatnya bencana di abad ke-21 itu.
Namun, kini masih ada kekuatan 'batin' dalam menghadapi bencana tersebut, yakni melalui keyakinan bahwa tsunami adalah musibah yang bisa datang dan menimpa setiap umat manusia dimana pun ia berada.
Nurmala (26), misalnya ia kini hidup sebatang kara karena tujuh saudara kandung dan kedua orang tuanya telah meninggal dalam musibah di penghujung tahun 2004 itu.
'Saya sudah pasrah dan berkeyakinan bahwa musibah itu adalah cobaan Allah SWT kepada hamba-Nya. Karena itu adalah takdir maka saya tetap kuat menerima cobaan tersebut,' ujar warga Kampung Pie, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.
Akan tetapi, janda muda yang juga kehilangan anak dan suaminya dalam bencana tsunami itu menyatakan dirinya terkadang tidak kuat saat mengenang setiap tanggal 26 bulan Desember 2005 itu.
'Saya selalu mengingat peristiwa itu. Untuk menguatkan hati, maka saya berzikir dan berdoa agar para arwah (almarhum/almarhumah) mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT,' katanya menjelaskan.
Untuk itu, dia menyatakan seharusnya setiap tanggal 26 Desember tersebut tidak hanya digelar acara seremonial, tapi juga adanya kepedulian dari berbagai pihak untuk memberikan semangat kepada keluarga korban tsunami.
'Saya pikir sentuhan psikologis cukup dibutuhkan para korban tsunami, selain nasib mereka yang belum memiliki pekerjaan melalui pemberdayaan ekonomi,' jelasnya.
Nurmala, menyatakan dirinya kini memang hidup sebatang kara namun ia tidak sendiri karena masih banyak orang yang senasib dengannya.
Muhammad Wahidi, korban tsunami asal Desa Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru, menyatakan peringatan lima tahun akan dirasakan lebih bermakna jika pemerintah mengevaluasi apa saja yang dibutuhkan para korban.
'Saya melihat, cukup banyak remaja dan pemuda dari keluarga korban tsunami yang tidak memiliki pekerjaan,' katanya.
Ia berharap pemerintah agar memetakan apa yang dibutuhkan masyarakat atau keluarga korban tsunami setelah rumah mereka terbangun.
'Rumah permanen memang sudah dibangun. Tapi apakah pemerintah telah memberdayakan mereka secara ekonomi. Itu perlu dipikirkan untuk kemandirian mereka terutama para keluarga yang bergerak bidang wira usaha,' kata dia.
Harus tuntas
Lima tahun tsunami dinilai akan lebih bermakna jika permasalahan yang diderita para korban bencana itu sudah terselesaikan.
Anggota DPR , HM Nasir Djamil mengharapkan masalah yang dihadapi para korban tsunami di Provinsi Aceh harus segera dituntaskan, seperti pengungsi yang masih bertahan di barak-barak hunian sementara (huntara).
'Saya memperoleh informasi hingga saat ini masih ada korban tsunami yang berdiam di barak huntara dan mereka mengaku belum memiliki rumah permanen, meski bencana itu telah berlalu lima tahun lalu,' kata Nasir Djamil.
Sekitar 206 kepala keluarga (KK) warga korban tsunami masih menghuni di barak huntara dan mereka mengaku hingga kini belum memiliki rumah permanen hingga berakhirnya tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.
'Jika memang itu korban tsunami dan tidak memperoleh rumah bantuan, maka menjadi tanggung jawab Pemerintah untuk menyediakan rumah bagi mereka,' tambahnya.
Tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sebagai lembaga yang bertanggung jawab untuk memulihkan situasi Aceh pascatsunami memang sudah berakhir pada April 2009. Namun hak-hak korban yang belum terlaksana harus tetap menjadi perhatian pemerintah, jelas dia.
'Artinya, Pemerintah Aceh dan Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA), memiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah korban tsunami yang belum mendapat haknya,' tambah Nasir Djamil yang merupakan anggota DPR asal Aceh.
Selain itu, lima tahun pascatsunami diharapkan menjadi momen penting untuk memberdayakan ekonomi masyarakat khususnya para keluarga dari korban bencana alam dahsyat di abad ke-21 ini.
'Dari kunjungan saya ke beberapa daerah korban tsunami, kondisi ekonomi masyarakatnya sangat memprihatinkan karena tidak adanya lapangan pekerjaan bagi mereka,' katanya menjelaskan.
Akan tetapi, tambahnya, pembangunan berbagai infrastruktur fisik sudah mengalami kemajuan pascatsunami, seperti jalan raya, jembatan, gedung sekolah dan sarana publik lainnya.
Sementara itu, Koordinator barak huntara Gampoeng Ulee Lhue, Kota Banda Aceh, Bakhtiar, menyatakan sebanyak 206 KK warganya memang benar korban tsunami yang hingga kini belum memiliki rumah permanen.
Ke-206 KK tersebut adalah warga Dusun Tongkol. Kakap dan Tenggiri Gampoeng Ulee Lhue.
'Itu benar warga korban tsunami yang tidak memiliki rumah. Selama ini kami tinggal di barak huntara dan menyewa serta menempati rumah keluarga. Lima tahun setelah tsunami seharusnya tidak ada lagi warga di barak,' kata dia.
Bahkan, sudah bertahun-tahun masyarakat berharap adanya bantuan rumah permanen. Harapan untuk memperoleh rumah juga telah disampaikan berbagai pihak, terutama kepada pemerintah tapi hingga kini belum terealisasi.
'Kami akan terus berjuang untuk memperoleh rumah yang merupakan hak kami. Anak-anak kami sangat prihatin karena masa depan mereka dipastikan terganggu jika harus bertahan terlalu lama dibawah tenda,' kata Bakhtiar.
Rumah dan pemberdayaan ekonomi bagi keluarga korban tsunami merupakan permasalahan yang masih tersisa pada lima tahun pascabencana itu berlalu.(Azhari/At)
TERKAIT :
Nikmati berita terkini di handphone anda http://m.berita8.com |
|