|
|
BLT \"Cuma\" Penyelamat untuk Jangka Pendek Selasa, 27 Mei 2008, 15:08 WIB
Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahun 2008 ini tidak dipersiapkan dengan baik. Sebab, data yang digunakan pemerintah sekarang ini merupakan data tahun 2005 dan juga secara teori visi itu samasekali tidak mengurangi kemiskinan.
Hal ini diungkapkan Staf Pengajar Fakultas Ekonomi UI, Ninaseptianti saat dihubungi berita8.com, Selasa (27/5).
'Karena hanya diberikan sesaat, hal itu dilakukan hanya maksimum satu tahun. Sehingga tidak ada dampak jangka panjang, yang ada hanya bumper atau penyelamat untuk jangka pendek,' cetusnya.
Disitulah, kata Nina, kita tidak melihat manfaat jangka panjang dari BLT. 'Jadi, sebetulnya akan lebih bagus masuk ke dalam program yang memberikan kail daripada memberikan Ikan. Misalnya, penyediaan lapangan kerja, kalau BLT itu diberikan uangnya tanpa ada suatu tujuan terkait penggunaannya. Intinya, terserah masyarakat menggunakan uang itu untuk apa saja,' ujarnya.
'Itu berbeda sekali dengan basis bagi program kemiskinan. Dalam program kemiskinan biasanya diberikan untuk pendidikan, kesehatan dimana hal itu sebagai investasi sifatnya. Kalau BLT itu sifatnya konsumtif, hanya untuk dikonsumsi sehingga terserah yang dapat untuk dipergunakan apa saja,' ujarnya.
Intinya, kata Nina, ini hanya untuk memberikan pengamanan bagi kenaikan harga BBM. 'Dana itupun menurut saya tidak akan cukup secara teoritis, sebab selain kenaikan harga BBM tentunya ada turunannya yaitu harga barang lain pasti akan naik,' ujarnya lagi.
'Karena itu manfaatnya dianggap lebih sedikit dari pada secara ekonomi. Tapi, kalau dari sisi politis, tentunya kita paham akan hitungannya akan berbeda dengan perhitungan ekonomi,' teranganya.
Sebab, lanjutnya, ini dilakukan menjelang pemilu, namun dalam ekonomi pun kita ketahui itu sebagai ‘buying food’. 'Disitu pasti akan lain pertimbangannya tapi dari sisi ekonomi, tapi toh ini bukan program jangka menengah atau program jangka penjang. Artinya hanya diberikan sesaat dan tidak memberikan investasi,' ujarnya.
'Seingat saya, itu dibicarakan secara nyata soal BLT yang Rp 14 triliun itu setelah memperhitungkan kenaikan 28,7%. Jadi, diperhitungkanlah sekitar Rp 13 triliun plus 800 juta miliar untuk pengalokasian, total sekitar Rp 14 triliun,' ujarnya.
Jadi, tambah Nina, ini disiapkan dengan sangat pendek rentan waktunya, mendadak dan sulit. Karena data yang dipakai itu tahun 2005, sehingga dilapangan itu akan sangat mengkhawatirkan.
'Kalau begini, justru akan bikin ‘BT’ orang kecil, yang akan kembali menjadi korban,' tukasnya. (Afn/Bm)
TERKAIT :
Nikmati berita terkini di handphone anda http://m.berita8.com |
|