|
|
Percikan Hati Maaf Tak Ada Lagi Orang Miskin Berpijak Di Tanah Ini Rabu, 17 September 2008, 12:17 WIB

|
Berdasar catatan redaksi tahun 2008, selain kenaikan harga BBM yang sempat mengguncang ekonomi dan politik nasional, rakyat juga terus terpinggirkan dengan sikap represif pemerintah yang ditunjukkan dengan penggusuran-penggusuran. Seolah-olah pemerintah tidak memberikan kesempatan hidup bagi rakyat miskin.
Konversi subsidi BBM menjadi penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) saja, tak mampu membuat rakyat berdiri dikaki sendiri menopang hidupnya yang semakin doyong.
Bahkan kini di beberapa daerah, ada beberapa masyarakat yang hanya makan 2 hari dalam seminggu, selebihnya hanya minum air putih saja. Itu juga air sumur yang sudah tercemar oleh bahan-bahan berbahaya.
Menjelang hari raya lebaran kali ini, tak urung Ibukota Jakarta, yang dianggap sebagai ladang rejeki oleh warga daerah menjadi bertambah sesak dengan serbuan 'gepeng dan pengemis'.
Dibulan suci ini, umat muslim memang dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadahnya. Tapi apakah rakyat Indonesia salah mengartikan ajaran Islam tersebut, atau rakyat sudah sangat lemah hingga hanya bergantung pada pemberian orang lain?
Berdasar data yang kami kumpulkan, jumlah gepeng dan pengemis yang menyerbu Jakarta lebih dari 1000 orang. Belum lagi ditambah dengan warga Jakarta sendiri yang mendadak menjadi gepeng berharap kedermawanan di bulan suci ini. Luar biasa!
Tak pelak mereka pun menjadi incaran pemerintah DKI Jakarta untuk di razia oleh petugas dengan dalih menertibkan kota demi kenyamanan.
Yang paling parah adalah kejadian mencengangkan tewasnya 21 orang miskin di pasuruhan Jawa Timur, saat berebut zakat dari saudagar kaya, H Syaikhon, Senin (15/9) dengan hanya berharap Rp30 ribu mereka rela mengorbankan nyawa.
Kontan peristiwa ini membuat dunia berpaling ke Pasuruhan, kota yang dulunya pernah dihebohkan oleh goyang ngebor Inul ini.
Mungkin perstiwa ini membuat para lembaga zakat untuk koreksi diri agar tertib membagikan zakat tepat pada orang yang secara sah menerimanya. Hal ini adalah untuk membentuk citra agar publik semakin percaya pada lembaga zakat, tidak menyalurkan secara sendiri-sendiri dan sporadis.
Yang paling menggelitik adalah ucapan dari para politikus untuk mengkomentari peristiwa tersebut, dengan menyalahkan pihak si saudagar maupun sistem ekonomi nasional yang carut marut katanya, tanpa berimplementasi di lapangan,' Jijeh mendengarnya,'.
Mungkin sudah saatnya rakyat berkaca pada kondisi ini agar keluar dari permasalahan kesejahteraan ekonomi rakyat kecil.
Tak hanya itu, sudah saatnya pemerintah dan seluruh elemen bangsa berbenah diri untuk kemajuan rakyat Indonesia semesta ' Adil dan Makmur ,' supaya tak ada lagi kata ' Maaf Tak Ada Lagi Orang Miskin Berpijak Di Tanah Ini,'.(Fz)
Nikmati berita terkini di handphone anda http://m.berita8.com |
|